https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgTJW-Zp8fBJURdHOGMjuHHjL0dz9-XyiuRsxs2sDxcglo5xdHjjES-lqpM2aSDbGzkKjuK2moHobyxb-m2uUp3sFVOFCamLv4OZ6a9BT7prAKvJ9_GEROqi-jA0uV_dnZ-FrWx3sGvUJJW8786ROyXg7gTFLWWDT6ERJxcURbUv5XtrgocIMrmx1k6NKg=s720

NUSANTARAEXPRESS, DURI - Diskusi ala kampung di sudut kota Duri yang memberikan edukasi dan arti tersendiri. Lebih seru ketika hidangan Ubi Jalar menghiasi hamparan meja mungil ala masyarakat pinggiran.

Diskusi ini biasa kami lakukan walaupun hanya berdua. Di kediaman sahabatku Mas Agung Marsudi di Kopelapit Duri Kec. Mandau Kab. Bengkali provinsi Riau Sabtu, 17 Juli 2021, lebih tepatnya seniorku karena usianya diatasku. Seorang pemikir sekaligus penulis handal yang tidak pernah diragukan kredibilitasnya di seantero nusantara.

Perbincangan kami dengan topik sederhana, tidak terlalu berat dan bahkan sangat ringan. Lebih tepatnya dapat menggelitik perut yang sudah terisi dengan ubi jalar. Dan situasi makin lebih pas tatkala seruputan kopi hitam panas dan ubi jalar membuat ambyarnya suasana.

Saat beliau melemparkan sebuah kalimat kepada saya, "Kok sulit ya, para wakil rakyat mengaktalusasikan pembangunan di wilayah konstituennya".

Aku sambut ketawa dan menggoncang perut yang sudah terisi seruputan kopi hitam dan ubi jalar. Saat itu aku teringat ucapan Gus Baha, Ulama fiqih yang sangat populer di Nusantara, katanya, "Menghindari sesuatu hal yang susah adalah pintar". Jadi kesimpulannya saya katakan kepada beliau, berarti dia cerdas dan pinter mas. Karena menghindari barang yang sulit untuk dilaksanakan.

Langsung dibalas ketawa terbahak-bahak oleh seniorku. Sangat menggelitik perut jelasnya.

Tidak semuanya aku tuliskan disini, karena memang cukup menggelitik dan "Kok bisa ya". Jelas kami berdua sambil menikmati hangatnya kopi dan ubi jalarnya.

 

Penulis : Mislam

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.